
"Sebuah tulisan dari Emha Ainun Nadjib atau Mbah Nun (begitu 'kami' biasa memanggil beliau), seseorang yang sangat menginspirasi saya menjalani hidup di dalam kehidupan ini. Tulisan yang tak comot dari http://dhitos.wordpress.com/2006/07/06/nikmatnya-kekalahan/ , semoga bermanfaat"
Setiap kesebelasan negara-negara yang tampil di Piala Dunia, termasuk jutaan suporternya masing-masing, berdoa khusyuk kepada Tuhan agar mereka mendapatkan kemenangan. Saya bertanya, kalau Anda menjadi Tuhan: apa yang terbersit dalam pikiran Anda, dan bagaimana menata keadilan dalam mengabulkan doa-doa yang semuanya memojokkan Anda?
Kalau memakai pola pemikiran linier, maka doa kesebelasan manapun yang Anda kabulkan, pasti selalu mengandung unsur ketidakadilan. Kalau Anda mengabulkan doa A, Anda menyakiti B. Demikian pula kalau Anda mengabulkan harapan B, Anda menghancurkan hati A. Bahkan kehancuran itu bisa berupa kematian. Seorang Ibu pendukung kesebelasan Cina meninggal karena gawangnya digedor-gedor habis oleh kesebelasan ‘agama’ sepakbola, yakni Brazil. Seorang Ibu Argentina menyaksikan kesebelasannya bertanding sambil membawa rosario di tangan kirinya dan Kitab di tangan kanannya – kemudian ternyata Argentina angkat koper gulung tikar.
Maka sesungguhnya yang harus diperkarakan, dipikir ulang, dibenahi benar-tidaknya – adalah konsep dan filosofi tentang kemenangan dan kekalahan. Anda yang berpikiran linier-sekuler dan meyakini hidup di dunia adalah segala-galanya, berbeda dengan Anda yang memiliki perspektif dunia-akhirat, pola horizontal-vertikal, yang menemukan bahwa menang kalah di dunia bukan akhir segala-galanya. Yang potensial untuk frustrasi dan stress adalah Anda yang pertama. Tetapi Anda yang kedua, juga potensial untuk naïf, fatal dan pasif dalam perjuangan hidup.
Seorang yang sejak awal memasuki atmosfir Piala Dunia dengan menjagokan Perancis, pagi-pagi sudah harus kukut, dan setap pertandingan sesudah Perancis hancur menjadi sepo dan tidak menarik. Anda yang terlalu pecaya kepada kegagahan, kehebatan dan keunggulan – tidak bisa mengerti kenapa Belanda tak bisa masuk ke Piala Dunia sementara Belgia, tetangganya sesama Benelux, malah lancar. Mungkin Anda mencoba memaafkan bahwa pabrik pemain, Ayax Amsterdam, memang sedang berada pada periode nadir dari produksi dan kreativitasnya, sehingga Belanda kekurangan stok.
Untung Italia tertolong. Tetapi susah payahnya kesebelasan pusat football market ini memberi memberi pelajaran kepada kita tentang kasunyatan bahwa yang popular tidak pasti lebih hebat dibanding yang tak pernah disebut-sebut. Bahwa yang diungguh-unggulkan di media massa tidak pasti berkapasitas Nabi yang punya mukjizat dan pasti menang. Ayatnya berbunyi : ‘Asa an takrohu syai-an wa huwa khoirul lakum, wa ‘asa an tuhibbu syai-an wa huwa syarrul lakum…’.
Sesuatu, figure, kelompok, tokoh, tim, atau apapun yang kau tak sukai mungkin justru itu yang sesungguhnya kau butuhkan. Sementara yang engkau junjung-junjung sebenarnya ia yang mencelakakanmu. Kalau boleh mengingatkan, hal inilah yang memperpanjang kehancuran Indonesia…
Halo Zidan, hai Figo, hee Batistuta…pada hakekatnya kekalahan adalah setinggi-tinggi ilmu pengetahuan. Untuk mengalami kemenangan, tak membutuhkan persiapan mental sejauh dan seberat mengalami kekalahan. Banyak orang lemah yang hanya bisa percaya diri hidupnya kalau ia punya kekayaan. Begitu ia miskin, hancur hatinya. Sementara ada puluhan juta orang kuat yang meskipun hidupnya miskin tetap bisa bahagia dan ceria. Demikianlah banyak orang-orang lemah yang untuk bisa hidup ia membutuhkan jabatan, butuh menyakiti orang lain, butuh mengungguli orang lain, butuh menang atas orang lain, butuh menjadi pejabat, butuh menjadi direktur, butuh menjadi sarjana dan doctor. Kalau mereka tak memiliki itu semua, hancur hatinya.
Terpaksa saya bercerita tentang hati saya. Demi Allah, saya tidak membutuhkan kemenangan atas siapapun saja kecuali atas diri saya sendiri. Menang saja saya tak mau, apalagi kalah.
Anda dan saya bisa hidup tenang bahagia gembira cukup dengan menjadi rakyat biasa, yang tidak kaya, tidak punya gelar dan jabatan. Anda menjadi rakyat saja berani, apalagi sekedar menjadi Presiden.(Emha Ainun Nadjib, Juni 2002).
Kamis, 09 Juni 2011
NIKMATNYA KEKALAHAN
Dipostkan oleh Andrex Tohjaya di 07.40 0 komentar
Jumat, 08 April 2011
Padhang-mbulan : Peran Sunan Kalijaga untuk Indonesia Baru

“Saat ini, diperlukan tak hanya Sunan Kalijaga, tapi Sunan Kalijaga plus untuk memperbaiki Republik Indonesia. Hal ini terkait dengan kondisi Indonesia yang semakin hari tidak semakin baik, bahkan semakin berada pada ambang kehancuran. Gak diapak-apakno, Indonesia iku bakal hancur dewe. Sama seperti keadaan Majapahit zaman dahulu.” Demikian ditegaskan oleh Cak Nun pada padhang mbulan lalu (23/09).
“Sama sekali tidak benar jika hancurnya Majapahit karena diserbu oleh Demak. Sebab, tanpa diserbu sekalipun, Majapahit akan hancur dengan sendirinya. Kehancuran Majapahit lebih disebabkan oleh kondisinya sebagai Negara Kesatuan yang sebenarnya pesisir, tapi pusat ibukotanya berada di pedalaman dengan basis ekonominya pertanian. Sedangkan waktu itu sedang terjadi keretakan lempengan bumi dan semburan lumpur di daerah Canggu sekitar 1450-an,” Cak Nun menambahkan.
Atas dasar itulah, Sunan Ampel akhirnya mengutus kepada Sunan Kalijaga untuk membantu Majapahit yang berada di ambang kehancuran. Majapahit sendiri bersedia menerima karena Sunan Kalijaga membantu Majapahit di akhir-akhir kekuasaannya dari serbuan Kerajaan Kediri yang diperintah Prabu Girindrawardana. Oleh Sunan Kalijaga, Majapahit diajak melakukan transformasi dari Negara Kesatuan Mojopahit berbasis pertanian menuju Negara Demak Federal di Daerah Glagah Wangi yang merupakan Negara Federasi berbasis ekonomi internasional maritim perdagangan.
Putra-putra Prabu Brawijaya pun diserahi kekuasaan sendiri yang disebut dengan Tanah Perdikan dengan gelar Ki Gede atau Ki Ageng. Mulai dari Ki Ageng Mangir, Ki Gede Menoreh, dan lain-lain. Kekuasan yang diberikan kepada putra-putra Brawijaya meliputi NTB hingga Denpasar, Madura, Pamekasan, Sumenep, Makasar, Borneo, sampai Palembang. Semuanya memang putra Brawijaya yang berjumlah 147 orang. Dari Betoro Katong Ponorogo, Syech Bela Belu Parangtritis, Ki Ageng Mangir Yogja Selatan, Handayaningrat, Prabu Denpasar, dan lain sebagainya. Kesemuanya merupakan transformasi dari Majapahit sebagai hasil reformasi yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga.
Ketika disuruh oleh Sunan Ampel agar mengatasi masalah yang ada di Majapahit, Sunan Kalijaga berpendapat, bahwa Majapahit tidak akan bisa menerima kehancuran jika tidak mengenal nilai-nilai islam. Sebab, hanya orang-orang yang mengenal nilai-nilai tasawuf islamlah yang akan terhindar dari kehancuran. Didalam tasawuf tidak ada kehancuran, apalagi hanya sekedar penderitaan. Maka, jalan satu-satunya yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga adalah “mengislamkan” Majapahit agar memiliki sikap hidup dan pandangan yang berbeda.
Yang pertama kali didakwai agar mengenal islam adalah TNInya Majapahit, yaitu Empu Supo dan anaknya Supo Anom, lantas DPR/MPRnya, baru kemudian keluarga istana dan anak-anaknya, meskipun pada tahap ini ada beberapa orang yang tidak bersedia masuk islam, yang kemudian pergi ke daerah selatan. Intinya, sebagai konsekuensi dari dakwahnya Sunan Kalijaga adalah terbentuknya tiga golongan dengan sikap dan paradigma yang berbeda.
Golongan pertama adalah golongan santri yang berjumlah sekitar 3000 orang. Oleh Sunan Kalijaga, golongan pertama ini diantarkan pergi ke daerah utara mulai Mojoagung hingga Demak dengan dikawal oleh Sunan Kudus. Sementara golongan kedua adalah Golongan Tengah, yaitu keluarga istana dan para kerabatnya. Berbeda dengan golongan pertama, untuk golongan tengah ini adalah islam abangan yang bersedia masuk islam tapi tidak mau berpakaian islam karena pertimbangan budaya. Bersedia naik haji tapi juga korupsi. Selingkuh, tapi kalau mati juga ditahlili, dan lain sebagainya. Golongan tengah ini dipimpin sendiri oleh Sunan Kalijaga dibawa ke Ngawi, yang kemudian disebut Mukswa.
Setelah beres dua golongan itu, Sunan Kalijaga kemudian tidak lantas membiarkan golongan ketiga yang pergi ke selatan karena tidak bersedia masuk islam, yang didalamnya juga terdapat adik dan anak-anak Prabu Brawijaya V. Golongan ketiga inilah yang disebut Sabdopalon Noyogenggong yang berjanji 500 tahun lagi akan kembali, meskipun hingga saat ini tidak ada kejadian apa-apa, pergi ke daerah Denpasar hingga Purwakarta. Oleh Sunan Kalijaga, Golongan ketiga ini didatangi satu persatu dalam waktu yang cukup lama, meskipun pada tahap itu tidak semuanya berhasil.
Sedemikian berat dan berliku tugas yang diemban oleh Sunan Kalijaga itupun gagal. Gagal dalam arti, bahwa Demak yang semula digadang-gadang bisa merepresentasikan dirinya sebagai kerajaan pesisir dibawah sinar islam dengan bimbingan wali sanga ternyata tidak berumur panjang karena perebutan kekuasaan dan pertarungan intern diantara umat islam sendiri. Dari Sunan Prawoto, Ratu Kalinyamat, Arya Penangsang, Mas Karebet atau Sultan Hadiwijaya, dan lain sebagainya. Arya Penangsang itu muridnya Sunan Kudus, sedangkan Mas Karebet muridnya Sunan Kalijaga.
Karena hal tersebut, Demak yang merupakan kerajaan pesisir bergeser ke pedalaman lagi menuju Pajang, hingga Mataram. Ketika berada di Mataram, Sunan Kalijaga sudah sangat tua, sehingga yang merupakan murid Sunan Kalijaga langsung adalah bapaknya Sutowijoyo, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan temannya yang strategi perang, yaitu Ki Mondoroko atau Ki Juru Mertani. Sedangkan Raja Mataram yang pertama, yaitu Panembahan Senopati bukan murid Sunan Kalijaga langsung, meskipun berada pada aliran yang sama.
Alhasil, disitulah lahir Republik Indonesia. Yaitu situasi dimana terjadi kegagalan menangani konflik sehingga Demak bergeser ke tengah lagi di daerah Kertasura (Pajang), bergeser lebih ke selatan ke Yogjakarta, yaitu di Kota Gede. Maka bisa dimengerti kalau kemudian konsep tentang walisongo mulai ditinggalkan digantikan Nyai Roro Kidul. Bahkan, sampai hari ini, Presiden Indonesia pun tetap memakai konsep yang sama. Yaitu tetap ke wali, meskipun pada saat yang sama juga ke penguasa Pantai Selatan. Sejak Panembahan Senopati inilah, Islam abangan mendapat legitimasi secara peradaban jawa.
Tak ada jalan lain, hari-hari ini diperlukan Sunan Kalijaga lagi untuk membawa Indonesia yang kesatuan menuju Demak yang federal berbasis maritim perdagangan. Sampai 2014 keatas harus benar-benar ada peran seperti Sunan Kalijaga, bahkan lebih, yaitu Sunan Kalijaga plus yang tidak anti Nyai Roro Kidul, yang akan menyelamatkan Indonesia dari kehancuran.
Lantas, sebuah pertanyaan yang patut untuk untuk menjadi perenungan bersama. Siapa dan dimanakah Sunan Kalijaga itu sekarang berada? (*).
oleh : Em Syuhada. Sebagian transkrip rekaman padhangmbulan (23/09).
Dipostkan oleh Andrex Tohjaya di 02.06 0 komentar
Sabtu, 02 Oktober 2010
Perang (saudara)

Miris, melihat beberapa berita yang memberitakan kejadian-kejadian yang terjadi beberapa waktu ini. Sekelompok orang yang mengaku manusia dengan segala sifat manusiawinya kehilangan rasa kemanusiaannya. Kemanusiaan berada di titik bawah di antara yang terbawah. Terinjak-injak oleh berbagai macam kepentingan-kepentingan pribadi, golongan dan kelompok. Bahkan ada yang sengaja menginjak-injaknya. Kemanusiaan dijunjung ketika menguntungkan, namun segera dilupakan begitu saja bilamana terjadi persinggungan kepentingan.
Ah, apakah sebegitu mudahnya kemanusian itu hilang dari manusia. Atau memang manusia ternyata tidak pernah mempunyai rasa kemanusiaan?? Hmm, mungkin itu hanyalah pikiran burukku yang telah teracuni oleh realita belakangan ini.
Emosi dengan mudahnya tersulut, darah begitu mudahnya mendidih dan hati begitu mudahnya terbakar. Lihatlah, manusia-manusia berteriak-teriak (hampir) lupa pada dirinya sendiri, berteriak-teriak sambil menenteng golok, parang, clurit serta pedang, dengan serta merta mencari sasaran disekelilingnya yang mereka anggap musuh. Mereka bangga jika sudah bisa membasuh muka mereka dengan darah-darah yang membanjir. Mereka pun bernyanyi lagu kematian. Bahkan mereka menari-nari tarian kematian. Entahlah, apakah mereka benar-benar lupa diri?
Mereka pun tertawa penuh kegirangan di atas tangis manusia lain, mereka juga menari-nari di atas bangkai-bangkai manusia yang mungkin masih saudara mereka sendiri. Hah....di sini aku pun tak dapat berbuat apa-apa untuk mencegah dan menegur mereka atau mengingatkan mereka jika orang yang tergeletak tak bernyawa itu adalah saudara mereka sendiri. Satu, dua, sepuluh.......tidak! Masih ada lagi, oh....berapa lagi jiwa yang harus terpisah dari raganya untuk bisa membasuh dahaga kalian?
Pilu menderu hingga menggema di dinding-dinding hatiku yang beku ini.
Jerit tangis anak-anak yang kehilangan Bapaknya bagai nyanyian sembilu yang keras menusuk relung hati ini. Namun, memang perang serasa telah menjadi sahabat karib bagi manusia, suatu kali berkunjung ke rumah mereka. Jika tidak datang, merekalah yang bertingkah mengundangnya.
Sudahlah, kumohon hentikan!! Hentikan!! Apa yang kalian inginkan?
Apa yang kalian cari? Ku duduk di sini menangis, tidakkah ada jalan yang lebih baik?! Semoga segera terselesaikan! Amiiin.
Dipostkan oleh Andrex Tohjaya di 04.53 0 komentar
Jumat, 27 Agustus 2010
Terang [pasti] kan Segera Datang

Jika harus memilih malam ini dan malam kemarin, mungkin malam ini menjadi malam pilihan bagi hati yang sedang berkabut kedukaan. Bagaimana tidak? Malam ini bisa jadi menghibur jiwa-jiwa itu. Lihatlah keluar, bagaimana Bulan dengan gagahnya bertengger di atas sana seolah-olah ingin menunjukkan bahwa dirinyalah yang paling terang. Bertemankan Bintang-Bintang yang bertebaran memenuhi angkasa, menambah keelokan langit yang bersih meski sedikit awan berarak-arak.
Berbanding terbalik dengan sore hingga malam kemarin. Dari sore Matahari diganggu oleh awan hitam yang bergulung-gulung pekat dari barat hingga timur jauh. Angin pun berhembus dengan kencangnya hingga daun-daun kehilangan pegangannya dari ranting yang selalu menggandengnya sedemikian eratnya. Namun sedemikian kencangnya angin yang bertiup, daun pun berguguran bahkan bersama-sama dengan ranting.
Sesaat kemudian guntur menggelegar membelah angkasa. Air perlahan turun titik demi titik hingga serasa ditumpahkan dari danau yang berada di angkasa sana. Nyanyian guntur berpadu dengan gemericik air yang turun membasahi bumi menyanyat-nyayat hati mereka yang sedang dilanda kegelisahan. Belum lagi tarian-tarian awan hitam yang sekali waktu di hiasi kilat yang menyambar-nyambar setiap jiwa yang lelah. Hingga kepiluan terasa tak berujung.
Tak terasa hari bertambah gelap seiring dengan surutnya Matahari ke ufuk barat, yang seharusnya dapat terlihat jikalau awan hitam itu tidak menyembunyikannya di balik badannya. Senja yang indah berganti senja yang berkabut awan kelam. Dinginnya saat itu pun ikut pula membekukan setiap hati yang dingin. Kebekuan akan kerinduan kepada kehangatan cinta kasih setiap sesamanya.
Entahlah, mengapa sore hingga malam itu hanya berisikan kegelisahan, kepiluan dan kebekuan?! Semua tergambar jelas di wajah langit sore hingga malam itu. Nyanyian syahdu guntur yang menggelegar menambah perih setiap sayatan-sayatan yang sedari tadi mengiris-iris relung hati setiap jiwa yang sedang rapuh.
Ah.....tapi lihatlah malam ini! Cobalah keluar rumah, buka pintu lalu cari tempat yang terbuka dan lihatlah ke atas, betapa keindahan Bulan yang meski belum sempurna, ditambah kerlip Bintang, mampu mengobati kepiluan, mampu mencairkan kebekuan hati pun mampu menghangatkan dinginnya malam ini. Hanya coba nikmati cahaya Bulan yang terang namun tidak menyilaukan itu. Renungilah, dia tidak rela membiarkan setiap malam gelap gulita sehingga Bulan rela memantulkan cahaya dari Matahari. Cobalah bayangkan jika Bulan mampu bersinar layaknya Matahari, pastilah kiranya tidak akan ada siang dan malam!!
Dipostkan oleh Andrex Tohjaya di 06.22 0 komentar
Jumat, 30 Juli 2010
Surat Untuk Sahabat II

Kesepian memang kadang menyakitkan, menoreh setiap senyum dan tawa serta menciptakan riak anak sungai di sudut mata. Pupus segala harap, melukai semua impian yang kadang memabukkan. Hingga jiwa yang rapuh menciptakan serpihan kegelisahan yang memilukan.
Cinta.....entah berapa banyak pahlawan yang tercipta karenanya, namun cinta kadang melahirkan para pecundang. Ia laksana kobaran api yang berasal dari setitik bara, menyuluh, namun dapat pula membakar.
Impian cinta membuat hati dan rasa terselimuti bahagia, memompa harapan yang keluar masuk melalui butiran darah.
Namun, cinta pun terkadang membuat rasa perih dan menorehkan sebuah luka di hati. Bagai sayatan pedang tajam mengiris-iris jantung hati ini. Hingga cinta berubah jadi benci yang tak terbendung.
Seharusnya, cinta tetap cinta dan benci tetap benci. Janganlah kita mengotori cinta dengan kebencian, namun alangkah baiknya jika meredam benci itu dengan menebar cinta.
Memang benar jikalau kesetiaan harus dimiliki oleh cinta dan itu tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kesetiaan adalah mahar yang sangat mahal bagi mereka yang ingin memelihara cinta agar tetap tumbuh dalam sanubari ini.
Dan, terkadang pun kesetiaan menjadi barang rongsokan bagi mereka yang tidak memahami arti cinta yang sesungguhnya. Bagi kita, orang yang tidak bisa memahami arti cinta yang sesungguhnya adalah bukan orang yang pantas untuk kita pilih sebagai tempat berlabuhnya cinta kita. Jadi, tidak sepantasnya kita memberikan cinta kita kepada orang-orang semacam itu.
Wajar adanya jika kebencian dapat muncul dan tumbuh subur di dalam diri para pecinta. Karena ketika cinta tidak di sertai dengan kesetiaan, dapat dipastikan kebencian akan muncul dalam diri karena hati tergores dan tersayat oleh ketidaksetiaan itu.
Bencilah ketidaksetiaanya, jangan benci orangnya. Dan jangan pula kebencian itu merugikan dirimu sendiri. Sisakan ruang bagi cinta untuk tumbuh dan berkembang untuk orang lain, ataupun untuk dirinya jika masih mungkin. Who knows??
Kebenciaan hanya akan membawa kita pada trauma cinta, hingga kebencian bisa membuat hati kita tertutup untuk orang lain. ( pengalamanku ^^ )
Namun, janganlah terlalu lama hinggap dalam kesedihan yang tak berujung itu. Jangan terlalu lama mengkasihani diri sendiri, jangan terlalu lama menikmati rasa perih itu. Lihatlah betapa banyak orang di luar sana yang menawarkan obat mujarab bagi lukamu itu. Mereka masih malu untuk datang kepadamu mengobati luka itu. Semua tergantung kepadamu, pilihan pun terserah kepadamu.
Memilih di sini untuk terus berdiam diri sambil menangisi dan menikmati perihnya luka itu atau memilih menghampiri tangan setiap orang yang menawarkan obat kepadamu.
"Hanya orang yang tepat yang mampu mengobati luka itu".
Penampilan luar yang indah bukan jaminan orang itu membawa obat yang kita harapkan, namun lebih kepada ketulusan dan kerelaan dia mengobati luka itu.
Good Luck!!
Dipostkan oleh Andrex Tohjaya di 23.37 0 komentar
Senin, 14 Juni 2010
Celoteh Tentang Seorang Sahabat

Selayaknya fitrah manusia yang tidak bisa hidup tanpa manusia lain. Begitu juga diriku yang menjalin hubungan dengan manusia lain melalui proses mengenalkan, berkenalan, kenal, berteman dan bersahabat. Suatu proses yang tidaklah gampang ataupun sulit. Ya, sampai saat ini aku masih bergelut dan menikmati proses itu.
*****
Seribu manusia yang ku temui, namun hanya tiga, dua atau bahkan satu yang mampu untuk mau saling mengerti bahkan memahami. Aku mengerti sepenuhnya jikalau isi dari kepala manusia itu berbeda-beda. Namun, ini bukan masalah tentang kepintaran ataupun kecerdasan. Ini lebih tentang perasaan, rasa yang (seharusnya) mampu tuk saling memberi saling menerima bukan saja dalam suka tapi dalam duka sekaligus.
*****
Datang dan pergi, menghianati dan dikhianati, mengecewakan dan dikecewakan, wajar adanya terjadi dalam dunia pertemanan, namun tidak dalam dunia persahabatan. Ya, teman berbeda dengan sahabat. Banyak yang datang pada kita saat mereka butuh sesuatu dari kita, banyak pula yang segera pergi saat kita butuh mereka. Dipungut jika kita berguna bagi mereka dan dibuang bagai sampah tak berarti sesudahnya. Aku pun masih berusaha sebaik mungkin tuk tidak saja menjadi teman tapi menjadi sahabat bagi orang-orang di sekelilingku. Betapa indahnya bilamana ada orang yang mau diajak berbagi rasa, berbagi pengalaman dan berbagi yang lain.
*****
Semua itu bukan tanpa masalah, karena untuk saling mengerti itu sulit dan untuk saling memahami itu susah. Jika hari-hari dipenuhi pertengkaran dan percekcokan karena perbedaan pandangan atau perbedaan pendapat, itu wajar. Itulah ujian untuk mengukur sampai di mana kualitas hubunganku dengan mereka. Bisa juga sebagai bahan introspeksi diriku, mulai dari kata-kata hingga perlakuanku terhadap mereka. Banyak yang membuat mereka tersenyum atau membuat mereka mengerutkan dahi.
*****
Begitu kompleksnya masalah-masalah yang muncul dalam proses itu. Namun dari situlah aku tahu mana yang mampu mengerti dan memahamiku, meski kadang aku belum bisa mampu tuk mengerti dan memahami mereka (maaf). Itulah sebagai bukti kekurangan dan kelemahanku yang menjadi alasan mengapa aku butuh seorang yang tidak saja sebagai teman, namun lebih dari sebagai teman yaitu sebagai sahabat dalam pengiring kaki ini melangkah.
*****
Aku tidak merisaukan jika ada satu dua yang hadir mengaku teman/sahabat saat membutuhkanku tapi tanpa ampun segera membuangku bagai sampah tak berarti sesudahnya. Sama sekali tidak membuatku goyah, karena aku masih mempunyai sahabat-sahabat setia dalam suka dan duka yang jauh lebih banyak dari pada teman-temanku yang seperti itu. Hahaha, kadang ada yang berpikir skeptis padaku kalau aku ini mudah sekali dimanfaatkan. Tak mengapa, memberikan yang terbaik semampu tenagaku kepada sahabat itulah sejatinya nilai sebuah persahabatan buatku.
*****
Maafkan, jika aku terkesan menggurui kalian di saat kita sedang saling berbagi rasa dan berbagi pengalaman. Tak ada maksud untuk itu. Suka tidak suka, sahabat yang benar-benar sejati akan mampu memahami itu. Aku juga tidak menuntut semua teman bisa menjadi sahabat. Karena itu tidak mungkin, karena hanya waktu dan keadaanlah yang bisa mempertemukanku dengan sahabat-sahabat itu.
*****
Jika kata orang bijak, tidak perlu menjadi seorang yang sempurna tuk mencintai secara sempurna. Aku bisa mengambil kesimpulan dari itu, tidak perlu menjadi seorang yang sempurna untuk menjadi sahabat yang sempurna. Menurutku justru karena ketidaksempurnaan masing-masing individu yang bisa membuat sempurna apa itu yang dinamakan sahabat sejati.
*****
Bagai cinta pertama, begitu pula sahabat sejati akan slalu ada dalam hati walaupun terpisah oleh jarak dan waktu. Aku yakin itu, sahabat sejati tidak akan mudah putus tali persahabata itu walau berada dalam ruang dan waktu yang berbeda. Hanya hati yang bisa menembus ruang dan waktu itu. Mereka bisa hadir dalam mimpi kita, angan kita bahkan langkah kita walau secara fisik tidak tampak. Ikatan batiniah lebih kekal dari pada ikatan lahiriah.
*****
Berlebihankah jikalau aku bercerita tentang sahabatku demikian itu??
Salahkah jikalau aku menggambarkan sahabatku demikian itu??
Dipostkan oleh Andrex Tohjaya di 09.10 0 komentar
Diorama Kelam

Malam itu beda dengan malam-malam biasanya. Awan hitam bergulung-gulung lebat menutup gemerlap bintang yang bertaburan di angkasa dan senyum sang rembulan. "Ah, hujan akan segera turun malam ini", pikirku. Dan benar saja, air pun mulai turun membasahi kegersangan tanah yang sedari siang tadi di sinari oleh sang mentari. Sejenak terdiam, terhenyak ketika suara guntur bergemuruh dari atas sana berhiaskan kerlipan kilat-kilat yang bersahut-sahutan.
*****
Hujan datang, berharap air juga menyirami kegersangan hati dan pikiran hari itu. Rintik-rintik air yang berkilauan karena sentuhan cahaya lampu penerangan jalan pun membawaku ke alam yang "seharusnya" aku tinggalkan, aku lupakan dan aku buang. Tapi hati berkata lain, dia menyuruhku tuk menyusuri kembali jejak-jejak kaki ini kulangkahkan.
*****
Satu persatu kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang membawaku sampai di sini pun mulai terlihat jelas di mata. Bagai diajak kembali tuk merasakan apa yang kurasakan saat itu.
*****
Diorama-diorama kepahitan yang dominan mewarnai napak tilasku tadi. Sampai saat kutemui sesosok wanita paruh baya yang begitu tegar menghadapi tidak saja himpitan-himpitan hidup, namun tetap kokoh ketika dihantam badai kehidupan yang serasa tak berkesudahan. Air mata ini pun sudah sampai ujung pelupuk mata, bahkan tak kuasa lagi aku tuk menahannya. Malam itu pun hujan serasa bertambah deras karena air mataku berjatuhan tak tertahan lagi.
*****
Kulanjutkan langkah kaki ini melewati wanita paruh baya tadi, tp bukan untuk meninggalkannya. Kutelusuri sebab musabab wanita tadi menangis. Sampailah pada suatu tempat di mana aku tidak bisa lagi menahan amarahku ketika kutemukan pemilik tangan yang menancapkan pisau belati ke wanita tadi dari belakang hingga menyayat-nyayatnya.
*****
Hatiku bergejolak, perasaanku terkoyak dan otakku pun jadi tumpul serta amarahku tak terkendali lagi, sehingga aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali mencabut pisau dari wanita itu dan kemudian berusaha menancapkan ke arah pemilik tangan tadi, atau bahkan akan kusayat-sayat lebih dari apa yang telah dia lakukan terhadap wanita itu.
*****
Namun kali ini gelegar guntur seolah mengejutkanku, tp yang lebih mengejutkanku adalah ketika sebuah tangan halus menarik lenganku sembari berbisik lembut agar aku mengurungkan niatku tadi. Langkahku pun terhenti dan pelan-pelan kutolehkan kepala kebelakang, serentak mataku terbelalak ketika kulihat sesosok wanita yang telah berlumuran darah, yang tak lain adalah wanita tadi yang telah menghalangiku tuk membalaskan sakit dan tangisannya.
*****
Sejenak terdiam tak bergerak dan tak berkata-kata ketika kembali wanita itu menggandengku dengan mesra untuk mengajakku meninggalkan orang tadi. Katanya : "Sudahlah, biar Tuhan yang membalasnya"!!
Aku tahu persis apa maksudnya. Tidak ada pilihan lain kecuali menuruti ajakan wanita itu. Aku tidak ingin menambah luka di hatinya hanya karena aku terlalu menuruti bara api dendam yang tlah hidup di hatiku. Dari wanita tadi aku belajar apa yang dinamakan kesabaran. Benar memang benar, "BIAR TUHAN YANG MEMBALASNYA, TUHAN MAHA ADIL". Pikirku, biarlah balasan ditimpakan TUHAN kepada dirinya atau keluarganya. Karena aku merasakan apa yang dirasakan oleh wanita itu. Bagai luka yang disiram air garam. Perih.........
*****
Dan tak terasa wanita tadi mengantarkanku kembali ke tempat aku melihat hujan malam itu. Hujan tlah reda namun air mataku belum kering seperti keringnya tanah yang disinari matahari tadi siang. Aku tak terlalu menghiraukan diriku, pandanganku masih tertuju pada wanita tadi. Meski senyum tlah mulai mengembang di bibirnya namun masih terlihat luka yang belum sembuh di hatinya.
Dipostkan oleh Andrex Tohjaya di 09.01 0 komentar
